Lumpur lapindo

Lumpur Lapindo

Miris… dari awal gue dengar tentang bencana ini, gue gak
nyangka ampe selama ini tuh bencana blom juga teratasi dengan baik. Pemerintah
dan manajemen perusahaan Lapindo Brantas jelas harus bertanggung jawab tuk
segera mengatasi permasalahan yang alot tapi membuat greget banyak pihak.
Lumpur Lapindo bikin banyak orang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Setiap
hari warga yang mengungsi di tenda-tenda pastinya menunggu kabar baik akan
nasib mereka di kemudian hari. Demonstrasi yang dilakukan warga dengan
memblokir jalan-jalan utama, seperti Surabaya-Sidoarjo, atau jalan tol
Porong-Sidoarjo, telah dilakukan berulang kali namun hasilnya tetap saja nihil.
Tidak hanya warga korban Lumpur Lapindo yang dirugikan, tetapi para pekerja
yang biasa menggunakan jalur Sidoarjo untuk kelancaran bisnis pengiriman mereka
juga dirugikan. Karena kemacetan yang diakibatkan oleh luapan Lumpur yang
memenuhi ruas jalan tol membuat truk-truk pengangkut barang menjadi terhambat.
Walhasil, banyak sayuran atau unggas yang dibuang oleh para pengemudi truk
karena busuk atau mati. Sungguh memprihatinkan, manakala akhirnya perekonomian
JATIM pun dikabarkan merosot akibat bencana Lumpur Lapindo ini.

Gue masih inget, pas lebaran 2006 lalu, warga desa yang
rumahnya terendam Lumpur harus merayakan lebaran dalam suasana yang mengharukan.
Takbir yang dikumandangkan jelas menggambarkan suasana hati yang galau. Pawai
obor pun tidak lagi semeriah ketika jalan setapak di desa mereka masih mudah
dilalui. Pekat lumpur yang mendanau sepekat harapan mereka untuk menjumpai
kembali rumah, sawah, sekolah, ataupun pabrik tempat mereka menjalani
hari-hari. Bahkan, keinginan terakhir para orang tua untuk dikebumikan di desa
kelahiran harus pupus karena tanah pekuburan sudah tak tampak lagi.

“Api kecil jadi sahabat, api besar jadi penjahat”, seperti
itulah bencana Lumpur lapindo buat gue. Permasalahan yang sedari awal tentunya bias
diatasi oleh Lapindo Brantas Inc. dengan mudah karena sumber Lumpur dan
luapannya belum lah sebanyak saat ini. Satu keresahan timbul di hati gue,
sekiranya gue adalah salah seorang korban bancana Lumpur lapindo, gue akan
tergugu manakala kelak cucu gue bertanya tempat gue dilahirkan, karena desa
tempat gue dilahirkan itu telah jadi danau Lumpur. Gue juga khawatir kelak di
peta gak ada lagi nama-nama desa Siring, Jatirejo, Renokenongo, dan
Kedungbendo, karena desa-desa itu telah lebih dahulu terendam Lumpur. Hmph …
moga permasalahan Lumpur ini segera tuntas yah… biar gak ada lagi kumadang
takbir di malam idul fitri yang meresahkan kalbu.  

Leave a Reply